Dulu, tiap kali buka grup WhatsApp keluarga, saya hampir selalu langsung percaya. Ada berita apa pun, judulnya heboh, gambarnya mencolok, saya teruskan ke saudara-saudara. Pokoknya asal sudah ada tulisan "viral" dan "sebarkan", tangan ini gatal sendiri. Sekarang? Saya justru sering jadi orang yang paling bawel di grup, nanya balik: "Ini sumbernya dari mana, Mas?"
Perubahan itu nggak terjadi dalam semalam. Ada satu kejadian yang bikin saya agak malu sendiri, dan kayaknya perlu saya ceritakan di sini. Siapa tahu ada kawan-kawan pensiunan yang pernah ngalamin hal serupa.
Kejadian yang Bikin Saya Berhenti Asal Percaya
Waktu itu sekitar dua tahun lalu. Saya dapat pesan berantai soal katanya ada aturan baru pencairan dana pensiun yang harus dilaporkan lewat aplikasi tertentu, kalau nggak, dana bisa tertahan. Saya panik. Namanya juga uang pensiun, ya, itu sumber hidup saya sekarang. Tanpa pikir panjang saya telepon anak saya yang kebetulan sedang kerja.
Dia cuma bilang, "Pak, cek dulu di situs resminya. Jangan langsung percaya." Saya cek. Ternyata nggak ada aturan seperti itu. Berita yang saya terima itu sudah beredar sejak lama, cuma diubah tahunnya biar kelihatan baru. Rasanya campur aduk — lega karena ternyata bohong, tapi juga malu karena hampir saja saya sebarkan ke teman-teman satu komplek.
Baca juga: Coba Matikan Notifikasi Berita Sehari, Gue Nggak Nyangka Efeknya
Sejak hari itu saya sadar, jadi pensiunan bukan berarti boleh berhenti mikir. Justru waktu luangnya banyak, jadi waktunya juga banyak buat cek ulang sebelum percaya.
Dulu vs Sekarang: Apa yang Berubah dari Cara Saya Baca Berita
Kalau saya bandingkan diri saya yang dulu dengan sekarang, bedanya kelihatan banget. Dulu saya baca berita cuma sampai judul. Sekarang, judul itu justru saya anggap pintu masuk, bukan isi rumahnya. Saya klik, saya baca sampai selesai, baru saya nilai.
Dulu saya percaya kalau beritanya dikirim keluarga sendiri. Logikanya waktu itu sederhana: masa keluarga saya ngasih info bohong? Sekarang saya paham, keluarga saya juga bisa ketipu. Mereka bukan sumber berita, mereka cuma penerus pesan. Rantai hoaks itu panjang, dan bisa mampir ke siapa saja.
Dulu saya malas buka situs resmi karena dianggap ribet. Sekarang, justru situs resmi jadi tempat pertama yang saya datangi kalau ada kabar soal pensiun, kesehatan, atau aturan pemerintah. Ternyata nggak ribet kok. Cuma butuh niat dan sedikit kesabaran.
Kebiasaan kecil yang saya pelihara sampai sekarang
- Selalu cari tanggal berita. Banyak berita lama didaur ulang seolah baru.
- Baca sampai paragraf ketiga, minimal. Sering kali judulnya nggak sesuai isi.
- Cek nama media atau situsnya. Kalau namanya aneh dan nggak jelas, saya skip.
- Tanya ke anak atau cucu kalau ragu. Nggak ada salahnya minta bantuan generasi muda.
- Nggak buru-buru meneruskan pesan. Saya kasih jeda satu-dua jam, kadang malah besoknya baru saya teruskan kalau memang penting.
Kelihatannya sepele, ya. Tapi percaya deh, lima kebiasaan ini yang bikin hidup saya jauh lebih tenang. Nggak ada lagi drama panik tengah malam gara-gara baca pesan berantai.
Pelajaran yang Saya Petik sebagai Pensiunan
Ada satu hal yang saya sadari belakangan. Sebagai pensiunan, kita punya banyak waktu, tapi kadang waktu itu justru dipakai buat hal yang kurang bermanfaat, termasuk mengonsumsi berita tanpa saringan. Padahal waktu luang ini bisa jadi modal buat lebih teliti.
Saya juga belajar bahwa jadi tua bukan alasan buat gaptek atau malas belajar. Justru di usia ini, kita harus lebih waspada, karena kita sering jadi target empuk. Penipu tahu kita punya tabungan, tahu kita kadang kesepian, tahu kita gampang percaya sama yang namanya "kabar dari pemerintah".
Yang paling penting, saya belajar buat nggak malu mengakui kalau salah. Dulu saya gengsi kalau dibilang termakan hoaks. Sekarang? Saya malah sering cerita ke teman-teman soal kesalahan saya dulu, biar mereka nggak ngalamin hal yang sama. Rasanya lebih lega jujur daripada pura-pura selalu benar.
Buat Kawan-Kawan yang Baru Masuk Masa Pensiun
Kalau kamu baru saja pensiun dan masih bingung harus gimana soal berita, saran saya cuma satu: pelan-pelan saja. Nggak perlu langsung jadi ahli. Mulai dari kebiasaan kecil, kayak baca sampai selesai sebelum meneruskan pesan. Lama-lama jadi kebiasaan.
Dan satu lagi, jangan ragu minta tolong anak atau cucu buat ngecek. Mereka nggak akan ngejek kok. Malah biasanya senang kalau kita mau belajar. Saya sendiri sekarang sering tanya cucu soal aplikasi atau situs yang nggak saya kenal. Kadang dia ketawa, tapi habis itu diajelasin baik-baik.
Intinya, jadi pensiunan bukan berarti berhenti jadi orang yang kritis. Justru di masa ini kita punya kesempatan buat lebih tenang, lebih teliti, dan lebih bijak dalam menyaring apa yang masuk ke kepala kita. Berita itu penting, tapi ketenangan pikiran jauh lebih penting. Dan dua-duanya bisa kita dapat kalau kita mau sedikit usaha.